Den Haag, 1 September 2022

Posted on March 8, 2011

0


“there was a time when everything was right
when stars shines bright
when birds fly sky high
when everyone has their chance to make choices

those time has gone
what’s left is sorrow and war
everyone lives alone
sitting, drinking, in the corner of the bar

what does it takes to have everything back?
nothing. you can’t, honestly
life moves on
so does everyone has to”

Jakarta, September 1th 2011

Kertas itu sudah lusuh. Berisi sebuah puisi tanpa rima, kubuat tepat sebelas tahun yang lalu. Saat hidup terasa seimbang, nyaris monoton. Selalu hitam diatas putih, seterusnya selalu begitu. Kalimat “life moves on” terus membayangi perasaanku.

“May i sit here?”, seorang perempuan muda berkemeja abu membuyarkan lamunanku.
“Sure”, jawabku sekenanya, masih tak begitu peduli.

Dengan cepat aku meneguk Heineken-ku yang masih tersisa setengah, ingin secepatnya pergi sebelum suasana hati makin suram.

“Where are you going?”, dia bertanya basa-basi, raut wajahnya berubah.
“Home”, sekarang aku benar-benar tak peduli.

Senyum seorang bartender mengantarku keluar dari tempat penuh asap itu. Aku menyebrangi jalan, menuju gerbang stasiun subway. Tiba-tiba, seorang pengemudi Chevrolet memakiku dalam bahasa Belanda, yang kurang lebih berarti menyuruhku minggir dari jalannya.

“BRAK!!”, Chevrolet tuanya menghantamku dengan kecepatan penuh. Tak lagi kurasakan tubuhku.

Ya. Aku mati.

Advertisement
Posted in: Uncategorized